Saturday, November 27, 2021

Prolog Kitab Alfiyah


Kitab Nahwu Shorof - Alfiyah ** 

Di suatu kota yang dingin di sebuah pesantren, terdapat beberapa santri yang sedang mempelajari sebuah kitab dengan gurunya. Kitab itu bernama Alfiyah yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik Rahimahullah, sehingga lebih populer dengan sebutan Alfiyah Ibnu Malik.

Alfiyah adalah kitab Nahwu-Sharaf terkenal yang sering dikaji dan dihafalkan di kalangan pesantren. Secara bahasa, alfiyah berarti seribu yang menunjukkan bahwa kitab tersebut tepat berisi 1000 nadzom (bait). Namun ternyata kitab tersebut berisi 1002 nadzom. Kemudian guru tersebut menceritakan sebuah kisah kepada santrinya tentang perjalanan penulisan kitab Alfiyah Ibnu Malik dan mengapa Alfiyah Ibnu Malik berisi 1002 nadzom, bukan 1000.

Imam Ibnu Malik adalah seorang murid dari Imam Ibnu Mu’thi yang juga memiliki sebuah kitab berisi susunan 1000 nadzom yang dinamakan Alfiyah Ibnu Mu’thi. Pada saat beliau menyusun dan menulis kitab Alfiyah Ibnu Malik, sebanyak 1000 nadzom (bait) yang menjadi isinya telah beliau simpan dalam memori otak beliau. Oleh karena itu beliau hanya tinggal menulis dan menyusunnya saja dalam sebuah kitab sesuai apa yang telah terekam dalam memorinya. Hal itu merupakan suatu hal yang sangat langka dilakukan oleh musanif (pengarang kitab) lain dalam menyusun sebuah karya.

Beliau mulai menulis dengan baik setiap huruf, kalimat, dan akhirnya tersusun menjadi sebuah nadzom yang utuh. Ketika proses penulisan itu berjalan suatu kejadian aneh terjadi saat beliau sampai pada nadzam baris kelima, yaitu :

———————

فائقة ألفية ابن معطي #…….

“…….. # Kitab Alfiyyah ini lebih mengungguli kitab Alfiyah Ibnu Mu’thi.”

———————

Tiba – tiba semua hafalan dan memori dalam otak yang semula beliau hafal, semua rancangan 1000 nadzom itu pun hilang hingga beliau tidak bisa mengingat satu huruf pun.

Kebingungan pun mendera dan mengusik hati beliau. Hari demi hari lamanya penulisan kitab ini terhenti. Hingga akhirnya suatu hari beliau berziarah ke makam gurunya, Imam Ibnu Mu’thi. Sebagai penghilang kesedihannya, beliau (Imam Ibnu Malik) membaca tahliltahmid, dan takbir di makam guru beliau tersebut sampai suatu saat tanpa sadar beliau tertidur disana.

Di dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ibnu Mu’thi yang menegurnya bahwa apa yang Imam Ibnu Malik lakukan pada saat menyusun kitab Alfiyyah ini, terdapat suatu kesalahan. Dalam mimpi tersebut Imam Ibnu Mu’thi berkata “Wahai muridku, apakah kamu lupa siapakah aku ini?” Beliau pun terbangun dari keterjagaannya dan masih dalam kebingungan serta terkejut, beliau teringat akan sebuah nazam terakhir yang beliau tulis. “Ya di situlah akar permasalahanya,” pikir beliau.

Di dalam nadzom terakhir yang beliau tulis, beliau menyebutkan bahwa kitab Alfiyah yang beliau susun adalah lebih mengungguli dari kitab Alfiyah yang disusun terlebih dahulu oleh guru beliau yakni Imam Ibnu Mu’thi. Hal ini sangat bertentangan dengan akhlak dan adab yang seharusnya dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya. Selanjutnya untuk menebus kesalahan dan sebagai rasa permintaan maaf dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta guru beliau tersebut, maka beliau pun menyusun dua nadzom di bawah ini :

—————————

وهو بسبق حائز تفضيلا # مستوجب ثنائي الجميلا

“Meskipun demikian, beliau (Imam Ibnu Mu’thi) tetap memiliki kelebihan dan pantas dipuji. Sebab dalam mengarang kitab Alfiyyah, beliau lebih dahulu dari pada saya (Imam Ibnu Malik).”

—————————

والله يقضي بهبات وافرة# لي وله في درجات الأخرة

“Semoga Allah melipatgandakan pahala yang Allah berikan kepadaku dan kepada beliau guruku (Imam Ibnu Mu’thi) kelak di akhirat nanti.”

—————————

Setelah beliau menyusun dua nadzom di atas yang menjadi ungkapan hati beliau, maka dengan izin Allah semua susunan 1000 nadzom yang semula hilang dari ingatan memori beliau seketika itu pula kembali lagi dan Imam Ibnu Malik dapat meneruskan penyusunan kitab Alfiyah-nya. Begitulah guru tersebut bercerita sebuah kisah kepada santrinya tentang perjalanan penulisan kitab Alfiyah Ibnu Malik dan mengapa Alfiyah Ibnu Malik berisi 1002 nadzom, bukan 1000.



Penerapan Adab dan Akhlak pada Fenomena Pandemi Saat Ini

Bila adab dan akhlak dikaitkan pada masa – masa ini, saat ini masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sedang diserang oleh sebuah wabah yang sering disebut virus corona atau Covid-19. Hal itu membuat seluruh masyarakat diwajibkan untuk melakukan social distancing atau menjaga jarak yang dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular.

Namun, rupanya banyak orang yang salah dalam menafsirkan social distancing itu. Baru-baru ini viral sebuah video yang memperlihatkan seorang wanita yang mengendarai mobil sedang membeli duku dari dalam mobilya, dan melempar uang kepada penjual secara tidak sopan. Alasan wanita tersebut berperilaku demikian adalah karena takut virus corona. Apapun motif wanita itu, hal yang dilakukannya tetaplah tidak benar.

Indahnya Memiliki Adab dan Akhlak Mulia

Dari kedua kisah dan fenomena tersebut, ternyata adab dan akhlak memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, terutama kehidupan seorang muslim. Seorang ulama yang level intelektualnya sangat tinggi sajasangat menjaga adab beliau terhadap gurunya, yakni melalui wasilah (cara) Allah melupakan bait – bait karangan selanjutnya akibat ada sebagian bait yang terdapat sedikit keangkuhan murid terhadap gurunya. Selain itu Allah mengembalikan hafalan ulama tersebut setelah beliau meminta ampun pada Allah dan meminta maaf pada guru beliau.

Salah satu keindahan ajaran agama Islam adalah agama Islam ini mendorong dan mengajarkan umatnya memiliki akhlak yang mulia. Selain itu, agama Islam juga melarang umatnya berakhlak dengan akhlak yang buruk. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad.)

Dan dari sabda beliau,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2201.)

—————————

Bahkan dengan akhlak muliaseseorang bisa menyamai kedudukan (derajat) orang yang rajin berpuasa dan rajin shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

“Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” (HR. Ahmad no. 25013 dan Abu Dawud no. 4165. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib no. 2643.)

—————————

Dengan semakin kokoh ‘aqidah dan keimanan seseorang, seharusnya semakin baik pula akhlaknya. Dengan bertambahnya ilmu ‘aqidah dan imannya, bertambah luhur pula akhlaknya. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi no. 1162. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 284.)

—————————

Adapun salah satu cara menjaga adab (akhlak) dalam kitab Nashaihul Ibad karya ulama Indonesia yang menjadi imam Masjidil Haram, Imam Nawawi Ibnu Umar Al–Jawy atau Imam Nawawi Al–Bantany (beliau memiliki gelar Al–Bantany karena beliau berasal dari Banten), dalam Bab 4 maqolah ke – 17, dijelaskan bahwa pangkal adab adalah sedikit bicara. Sedikit bicara yang dimaksud disini adalah berbicara seperlunya dan hanya berbica hal – hal yang penting dan manfaat saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

—————————————

الامهات اربع ام الادوية وام الاداب وام العبادات وام الاماني فام الادوية قلة الاكل وام الاداب قلة الكلام وام العبادات قلة الذنوب وام الاماني الصبر

“Pangkal segala sesuatu ada empat : pangkal obat, pangkal adab (akhlak), pangkal pengabdian (ibadah) dan pangkal cita-cita. Adapun pangkal obat adalah mengurangi makan. Pangkal adab adalah sedikit berbicara. Pangkal ibadah adalah sedikit berbuat dosa. Dan pangkal cita-cita adalah bersabar.”

—————————

Oleh karena itu, jika ada di antara kita yang semakin bertambah ilmu agama dan imannya, namun akhlaknya tidak semakin baik, maka waspadalah, mungkin ada yang salah dalam diri kita dalam belajar agama dan mengamalkannya.

Hiasilah dirimu dengan adab dan akhlak mulia. Namun, janganlah kita berhias dengan akhlak yang mulia dengan selalu mengharapkan mendapatkan perlakuan yang semisal dan sebanding dari orang lain. Sedikitklah dalam berbicara, karena sedikit bicara adalah pangkal adab.

2 comments:

  1. alhamdulillah semoga bermanfaat, share seputar kitab kuning lagi dong kang.
    kalau ada kitab fathul izar hehe

    ReplyDelete
  2. Alhamdullilah dapet ilmu baru ..
    .
    Hehe

    ReplyDelete