Monday, December 27, 2021

Kitab Risalatul Mu'awanah

Sekilas Tentang Kitab Ini

Kitab Risalatul Muawanah merupakan kitab yang berisi nasehat, petuah dan petunjuk keselamatan yang semuanya bersumber dari al-Qur'an serta Hadits Baginda Nabi Muhammad SAW. Kitab ini sendiri dikarang oleh al- Arif billah al-Imam Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad.
Kitab ini mengajak memperkuat iman dan keyakinan, dan menjelaskan cara keduanya itu menjadi kuat. Dengan keyakinan yang kuat, hal-hal ukhrawi yang tidak nampak seolah-olah kelihatan, sehingga selalu melihat diri kita - diakhirat menghadap Allah - yang disertai rasa takut (khauf) dan berharap (roja'), juga menjelaskan bagaimana berhubungan dengan Allah maupun kepada sesama manusia. Kita akan selalu mencintai Allah dan menjadikan semua hidup kita untuk mengabdi kepada-Nya, menjalankan hal-hal yang baik, dan meninggalkan hal-hal yang buruk.


Download Kitabnya Disini
file dalam bentuk pdf dan tanpa merubah isi kandungan dalam kitab (tetap dalam bentuk susunan dan isi dari kitab tersebut). 
cara downloadnya hanya tinggal meng-Klik saja teks  yang berwarna Hijau diatas hingga diarahkan ke halaman Google Drive selanjutnya klik download. atau bisa menghubungi admin melalui E-mail yang di sediakan. 

Terima kasih. 
semoga bermanfaat bagi kita semua
 

Saturday, December 25, 2021

Kitab Fahtul Qorib (Taqrib)


Pengarang Kitab

Pengarang Kitab Fathul Qorib adalah Syekh Muhammad bin Qosim al-Ghazi (918 H/1512 M). Ia merupakan penulis syarakh (penjelas) dari kitab matan Taqrib yang dikarang oleh Imam Syekh Ahmad bin Husein atau dikenal dengan sebutan Abu Syuja’. Kitab ini disusun berdasarkan tradisi mazhab Syafi’iyyah.

Syekh Abu Syuja’ menulis Matan Taqrib sebab atas permintaan para murid dan teman–temannya. Tujuan penyususn kitab ini supaya orang yang belajar ilmu fikih dapat mengetahui hukum agama secara singkat dan mudah. Banyak ulama setelah era Imam Abu Syuja’ yang menyusun kitab syarakh atas Taqrib miliknya, termasuk salah satunya yaitu Syekh Muhammad al-Ghazi.



Fathul Qarib merupakan termasuk salah satu kitab fikih yang paling populer di kalangan santri pesantren seluruh pelosok Indonesia. Belum diketahui secara pasti mulai kapan kitab ini dikaji di Indonesia, yang jelas para santri yang belajar fikih tidak diraguka lagi apabila mereka mengaji kitab ini.

Syarakh Taqrib digunakan oleh banyak pondok pesantren krena isi bab-babnya ringkas dan padat pembahasannya. Di samping itu juga diksi dan susunan kalimat kitab ini mudah dipahami bagi yang baru belajar membaca kitab kuning.

Isi Kitab Taqrib

Matan Taqrib yang diuraikan dalam Syarakh Fathul Qarib secara umum membahas rukun Islam dan hal-hal yang berkaitan dengan bidang muamalah. Berikut di antara bab-bab yang dibahas di dalam kitab ini:

1.    Muqoddimah

2.    Thoharoh

3.    Sholat

4.    Macam Macam sholat

5.    Zakat

6.    Puasa

7.    Haji dan Umroh

8.    I’tikah

9.    Jual beli

10. Hukum waris

11. Wasiat

12. Nikah

13. Talak

14. Jinayah (Pidana)

15. Hudud (Hukum Pidana)

16. Jihad

17. Binatang Sembelihan dan Buruan

18. Halal Haram Binatang

19. Kurban

20. Akikah

21. Nadzar dan Sumpah

22. Hakim dan Saksi Persidangan

23. Memerdekakan Budak (hamba sahaya)

 



 Download Disini kitabnya dalam bentuk PDF 

semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wednesday, December 15, 2021

Nadzom Alfiyah Makna Pesantren Jawa

 


Sekilas Tentang Kitab alfiyah

adalah mahakarya agung dalam bidang ilmu nahwu dan shorof yang tata bahasanya memukau orang yang tahu keindahan sastra arab.

Kitab Alfiyah dikarang oleh Syekh Muhammad bin Abdullah bin Malik Alandalusy.

Beliau berasal dari daerah Andalusia yang sekarang kita kenal dengan nama Spanyol.

Dulu, wilayah Spanyol termasuk salah satu wilayah yang ditaklukan oleh Thariq bin Ziyad dan Islam berkembang pesat di sana, salah satunya muncul ulama fenomenal pengarang kitab Alfiyah ini.

Syekh Muhammad bin Abdullah bin Malik Alandalusy lebih dikenal dengan nama Ibnu Malik.

Malik adalah nama kakek beliau, dan sebutan Ibn Malik disandarkan kepada kakek beliau.

Oleh karena itu tidak heran jika 

kita mengenal kitab fenomenal ini dengan sebutan Alfiyah Ibnu Malik. Sama halnya dengan Imam Syafi’i yang mana syafi’i adalah bukan nama aslinya melainkan nama datuknya.

Kitab ini juga telah disyarahi oleh banyak ulama, salah satu syarah alfiyah yang cukup terkenal adalah Syarh Ibn ‘Aqil.

Bagi kalangan pesantren, syarh kitab Alfiyah Ibnu Malik ini tentu sangat familiar.


Pembagian bab-bab di kitab Alfiyyah sebagai berikut:

1.    Muqaddimah

2.    Bab Kalam dan Susunannya

3.    Bab Mu’rab dan Mabni

4.    Bab Nakirah dan Ma’rifat

5.    Bab Isim Alam

6.    Bab Isim Isyaroh

7.    Bab Isim Maushul

8.    Bab Ma’rifat dengan Alat Ta’rif

9.    Bab Ibtada’

10. Bab Kana dan Saudara-saudaranya

11. Bab Maa, Laa, Laata, dan In yang beramal Laisa

12. Bab Af’aalul Muqorabah

13. Bab Inna dan Saudara-saudaranya

14. Bab Laa Nafi Jenis

15. Bab Zhonna dan Saudara-saudaranya

16. Bab A’lama dan Aroo

17. Bab Isim Fa’il

18. Bab Naibul Fa’il

19. Bab Istighol

20. Bab Fi’il Muta’adi dan Fi’il Lazim

21. Bab Tanaazu’ Dalam Amal

22. Bab Maf’ul Muthlaq

23. Bab Maf’ul Lah

24. Bab Maf’ul Fih-Zhorof

25. Bab Maf’ul Ma’ah

26. Bab Istitsna’

27. Bab Haal

28. Bab Tamyiz

29. Bab Huruf Jarr

30. Bab Idhofah

31. Bab Mudhof kepada Ya’ Mutakallim

32. Bab Amal Mashdar

33. Bab Amal Isim Fa’il

34. Bab Bina’ Mashdar

35. Bab Bina’ Isim Fa’il, Bina’ Isim Maf’ul dan Bina’ Shifat Musyabbah

36. Bab Shifat yang menyerupai Isim Fa’il

37. Bab Ta’ajjub

38. Bab Ni’ma, Bi’sa dan Ma yang menempati pada keduanya

39. Bab Af’alut Tafdhil

40. Bab Na’at

41. Bab Taukid

42. Bab ‘Athaf

43. Bab ‘Athaf Nasaq

44. Bab Badal

45. Bab Nida’

46. Bab Fashlun Tabi’ Munada

47. Bab Munada Mudhof pada Ya’ Mutakallim

48. Bab Isim-Isim yang hanya berlaku pada Nida’

49. Bab Istighotsah

50. Bab Nudbah

51. Bab Tarkhim

52. Bab Ikhtishosh

53. Bab Tahdzir dan Ighro’

54. Bab Isim Fi’il dan Isim Ashwat

55. Bab Nun Taukid

56. Bab Isim yang tidak Munshorif

57. Bab I’rab Fi’il

58. Bab ‘Amil Jazm

59. Bab Fashl Lau

60. Bab Amma, Laula dan Lauma

61. Bab Khabar dari Alladzi dan Alif Lam

62. Bab Hitungan

63. Bab Kam, Ka’ayyin dan Kadza

64. Bab Hikayah

65. Bab Ta’nits

66. Bab Maqshur dan Mamdud

67. Bab Cara Mentatsniyah dan Menjama’kan Isim Maqshur dan Mamdud

68. Bab Jama’ Taksir

69. Bab Tashghir

70. Bab Nasab

71. Bab Waqof

72. Bab Imalah

73. Bab Tashrif

74. Bab Tambahan Hamzah Washal

75. Bab Penggantian Huruf

76. Bab Fashal Penggantian Wau dari Ya‘

77. Bab Fashal Berkumpulnya Wau dan Ya’

78. Bab Fashal Pemindahan Harakah pada Huruf Mati Sebelumnya

79. Bab Fashal Penggantian Fa’ Ifti’ala pada Ta’

80. Bab Fashal Membuang Fa’ Fi’il Amar dan Fi’il Mudhori’

81. Bab Idgham

82. Khatimah Nadzam

 


Bait 6 dan 7 ini konon merupakan tambahan dari Ibnu Malik dikarenakan saat menulis bait ke 5, di bait “فَائِقَةً ألْفِيَّةَ ابْنِ مُعْطِي”, tiba-tiba beliau lupa sisa 995 nadhom lainnya.

Ibnu Mu’thi adalah guru beliau.

Setelah lupa, beliau kemudian berziarah ke makam Ibnu Mu’thi, lalu di tengah-tengah berziarah, beliau tertidur dan bermimpi.

Dalam mimpi beliau, Sang Guru, Ibnu Mu’thi mendatangi beliau dan bertanya, “Wahai muridku apakah kamu lupa siapakah aku ini?”

Seketika Ibnu Malik terbangun, lalu tersadar kenapa beliau bisa lupa memori hafalan sisa kitab alfiyah yang sedang beliau tulis.

Ternyata karena beliau menulis bahwa kitab Alfiyah yang beliau susun lebih unggul dari kitab guru beliau, yaitu kitab Alfiyah Ibnu Mu’thi, menjadikan hafalannya lupa.

Ini terjadi karena sifat merasa lebih baik dari orang lain itu bukan akhlak yang terpuji.

Untuk menebus kesalahan beliau, akhirnya ditambahkanlah dua nadzam lagi, yaitu bait ke 6 dan ke 7, yang berisi pujian dan doa beliau untuk Sang Guru.

Download Nadzomannya disini, Monggo

 


Monday, December 13, 2021

Kitab Arba'in Nawawi




    Kitab yang dikaji dalam pembelajaran hadits di Nusantara pun beragam, ada yang menggunakan al-kutub al-ashliyyah dan ada banyak pula yang menggunakan al-kutub al-far’iyyah.   

Maksud dari al-kutub al-ashliyyah 

adalah kitab hadits induk atau primer. Ia memuat hadits-hadits yang memiliki sanad sendiri dari penulis sampai ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 
Contohnya adalah kutubus sittah (6 kitab hadits yang terkenal: Shahîh al-Bukhâri, Shahîh Muslim, Sunan Abî Daud, Sunan Ibn Mâjah, Sunan an-Nasâ`i, dan Sunan Tirmidzi), al-Muwattha`, al-Mustadrak, Mu’jam, dan lain-lain.   

Sedang al-kutub al-far’iyyah

adalah kitab hadits sekunder. Ia memuat hadits-hadits yang sanadnya bersandar kepada kitab primer, atau hanya kumpulan hadits tanpa sanad yang lengkap. 
Misalnya adalah Arbaîn Nawawiyah karya Imam an-Nawawi, ia memuat sekumpulan hadits namun sanadnya tidak disebut secara lengkap dan disandarkan kepada penulis kitab primer semisal al-Bukhâri dan lain-lain. Misal lainnya adalah kitab Bulûghul Marâm karya Imam Ibnu Hajar al-‘Atsqallâni. Kitab ini memuat sejumlah hadits-hadits hukum dan disusun sesuai bab-bab dalam ilmu fiqih, namun sanad hadits tidak disebutkan secara lengkap, hanya dari Sahabat Rasulullah saja, kemudian disebutkan siapa yang meriwayatkannya dari para penulis kitab semisal al-Bukhâri atau Ibnu Majah, dan lain-lain.   

Dibanding Bulughûl Marâm, kitab Arbaîn Nawawiyah lebih tipis karena memuat tak sampai 50 hadits. Meski bernama Arba’în (berarti 40), kitab ini tak memuat  hadits dengan jumlah persis 40, melainkan 42 hadits. Hadits-hadits tersebut  berkaitan dengan pilar-pilar dalam agama Islam baik ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), serta hadits-hadits yang berkaitan dengan jihad, zuhud, nasihat, adab, niat-niat yang baik dan semacamnya.   Hadits-hadits dalam Arbaîn Nawawiyah merupakan landasan atau fondasi dalam agama Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa ajaran Islam, atau setengahnya, atau sepertiganya berlandaskan pada hadits-hadits dalam kitab ini (Imam an-Nawawi, al-Arba’în an-Nawawiyah, Beirut: Dar el-Minhaj, cetakan pertama, 2009, h. 44).   Sebagaimana disebutkan dalam mukadimah kitabnya, Imam Nawawi termotivasi dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Abu Darda,Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Abu Hurairah, dan Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhum, dari banyak jalur riwayat yang berbeda-beda:

silahkan download kitabnya dibawah ini 

 Download Kitab Arba'in Nawawi makna gandul PDF 

Kitab Alala

 



Pengarang kitab Alala sendiri tidak dicantumkan di dalam kitab-kitab alala yang selama ini dipelajari, dan dalam cetakan lain terdapat nama pengarang kitab ini adalah Muhammad Abu Basyir Al-Dimawi.

Download Kitab Alala 

Monday, November 29, 2021

Ihya Ulumuddin Juz 1 - 4 Al-Ghozali

 



Download Ihya' Ulumuddin  Karangan Imam Al-Ghozali Juz 1 
Download Ihya' Ulumuddin  Karangan Imam Al-Ghozali Juz 2
Download Ihya' Ulumuddin  Karangan Imam Al-Ghozali Juz 3
Download Ihya' Ulumuddin  Karangan Imam Al-Ghozali Juz 4

Saturday, November 27, 2021

Kitab Irsyaadus Saari

 




jika pertemuan lalu admin membagikan file kitab Fathul Baari, maka kali ini admin akan membagikan kitab Irsyaadus Saari yang merupakan Syarh Shohih Bukhori. oleh karena itu sanga penting bagi kita setidaknya untuk memahami isi dari kandungan hadis Bukhori. 

jangan lupa untuk tetap selalu menjaga kesucian lahir dan batin, dan bagi yang belum pernah mengkajinya alangkah baiknya untuk tidak salah faham dengan isinya, karna sebaiknya mengkajinya terlebih dahulu kepada guru atau Kyai terdekat di masing masing pondok pesantren, bertujuan agar tidak terjadi kesalah fahaman mengenai isi dari sebuah hadist. 

dan silahkan download file nya melalui link yang sudah di sematkan di bawah ini : 

Download kitab Irsyaadus Saari Pdf 1

Download kitab Irsyaadus Saari Pdf 2

Download kitab Irsyaadus Saari Pdf 3

Download kitab Irsyaadus Saari Pdf 4

Download kitab Irsyaadus Saari Pdf 5

Download kitab Irsyaadus Saari Pdf 6

Download kitab Irsyaadus Saari Pdf 7

Download kitab Irsyaadus Saari Pdf 8

Download kitab Irsyaadus Saari Pdf 9

Download kitab Irsyaadus Saari Pdf 10 

Prolog Kitab Alfiyah


Kitab Nahwu Shorof - Alfiyah ** 

Di suatu kota yang dingin di sebuah pesantren, terdapat beberapa santri yang sedang mempelajari sebuah kitab dengan gurunya. Kitab itu bernama Alfiyah yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik Rahimahullah, sehingga lebih populer dengan sebutan Alfiyah Ibnu Malik.

Alfiyah adalah kitab Nahwu-Sharaf terkenal yang sering dikaji dan dihafalkan di kalangan pesantren. Secara bahasa, alfiyah berarti seribu yang menunjukkan bahwa kitab tersebut tepat berisi 1000 nadzom (bait). Namun ternyata kitab tersebut berisi 1002 nadzom. Kemudian guru tersebut menceritakan sebuah kisah kepada santrinya tentang perjalanan penulisan kitab Alfiyah Ibnu Malik dan mengapa Alfiyah Ibnu Malik berisi 1002 nadzom, bukan 1000.

Imam Ibnu Malik adalah seorang murid dari Imam Ibnu Mu’thi yang juga memiliki sebuah kitab berisi susunan 1000 nadzom yang dinamakan Alfiyah Ibnu Mu’thi. Pada saat beliau menyusun dan menulis kitab Alfiyah Ibnu Malik, sebanyak 1000 nadzom (bait) yang menjadi isinya telah beliau simpan dalam memori otak beliau. Oleh karena itu beliau hanya tinggal menulis dan menyusunnya saja dalam sebuah kitab sesuai apa yang telah terekam dalam memorinya. Hal itu merupakan suatu hal yang sangat langka dilakukan oleh musanif (pengarang kitab) lain dalam menyusun sebuah karya.

Beliau mulai menulis dengan baik setiap huruf, kalimat, dan akhirnya tersusun menjadi sebuah nadzom yang utuh. Ketika proses penulisan itu berjalan suatu kejadian aneh terjadi saat beliau sampai pada nadzam baris kelima, yaitu :

———————

فائقة ألفية ابن معطي #…….

“…….. # Kitab Alfiyyah ini lebih mengungguli kitab Alfiyah Ibnu Mu’thi.”

———————

Tiba – tiba semua hafalan dan memori dalam otak yang semula beliau hafal, semua rancangan 1000 nadzom itu pun hilang hingga beliau tidak bisa mengingat satu huruf pun.

Kebingungan pun mendera dan mengusik hati beliau. Hari demi hari lamanya penulisan kitab ini terhenti. Hingga akhirnya suatu hari beliau berziarah ke makam gurunya, Imam Ibnu Mu’thi. Sebagai penghilang kesedihannya, beliau (Imam Ibnu Malik) membaca tahliltahmid, dan takbir di makam guru beliau tersebut sampai suatu saat tanpa sadar beliau tertidur disana.

Di dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ibnu Mu’thi yang menegurnya bahwa apa yang Imam Ibnu Malik lakukan pada saat menyusun kitab Alfiyyah ini, terdapat suatu kesalahan. Dalam mimpi tersebut Imam Ibnu Mu’thi berkata “Wahai muridku, apakah kamu lupa siapakah aku ini?” Beliau pun terbangun dari keterjagaannya dan masih dalam kebingungan serta terkejut, beliau teringat akan sebuah nazam terakhir yang beliau tulis. “Ya di situlah akar permasalahanya,” pikir beliau.

Di dalam nadzom terakhir yang beliau tulis, beliau menyebutkan bahwa kitab Alfiyah yang beliau susun adalah lebih mengungguli dari kitab Alfiyah yang disusun terlebih dahulu oleh guru beliau yakni Imam Ibnu Mu’thi. Hal ini sangat bertentangan dengan akhlak dan adab yang seharusnya dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya. Selanjutnya untuk menebus kesalahan dan sebagai rasa permintaan maaf dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta guru beliau tersebut, maka beliau pun menyusun dua nadzom di bawah ini :

—————————

وهو بسبق حائز تفضيلا # مستوجب ثنائي الجميلا

“Meskipun demikian, beliau (Imam Ibnu Mu’thi) tetap memiliki kelebihan dan pantas dipuji. Sebab dalam mengarang kitab Alfiyyah, beliau lebih dahulu dari pada saya (Imam Ibnu Malik).”

—————————

والله يقضي بهبات وافرة# لي وله في درجات الأخرة

“Semoga Allah melipatgandakan pahala yang Allah berikan kepadaku dan kepada beliau guruku (Imam Ibnu Mu’thi) kelak di akhirat nanti.”

—————————

Setelah beliau menyusun dua nadzom di atas yang menjadi ungkapan hati beliau, maka dengan izin Allah semua susunan 1000 nadzom yang semula hilang dari ingatan memori beliau seketika itu pula kembali lagi dan Imam Ibnu Malik dapat meneruskan penyusunan kitab Alfiyah-nya. Begitulah guru tersebut bercerita sebuah kisah kepada santrinya tentang perjalanan penulisan kitab Alfiyah Ibnu Malik dan mengapa Alfiyah Ibnu Malik berisi 1002 nadzom, bukan 1000.



Penerapan Adab dan Akhlak pada Fenomena Pandemi Saat Ini

Bila adab dan akhlak dikaitkan pada masa – masa ini, saat ini masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sedang diserang oleh sebuah wabah yang sering disebut virus corona atau Covid-19. Hal itu membuat seluruh masyarakat diwajibkan untuk melakukan social distancing atau menjaga jarak yang dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular.

Namun, rupanya banyak orang yang salah dalam menafsirkan social distancing itu. Baru-baru ini viral sebuah video yang memperlihatkan seorang wanita yang mengendarai mobil sedang membeli duku dari dalam mobilya, dan melempar uang kepada penjual secara tidak sopan. Alasan wanita tersebut berperilaku demikian adalah karena takut virus corona. Apapun motif wanita itu, hal yang dilakukannya tetaplah tidak benar.

Indahnya Memiliki Adab dan Akhlak Mulia

Dari kedua kisah dan fenomena tersebut, ternyata adab dan akhlak memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, terutama kehidupan seorang muslim. Seorang ulama yang level intelektualnya sangat tinggi sajasangat menjaga adab beliau terhadap gurunya, yakni melalui wasilah (cara) Allah melupakan bait – bait karangan selanjutnya akibat ada sebagian bait yang terdapat sedikit keangkuhan murid terhadap gurunya. Selain itu Allah mengembalikan hafalan ulama tersebut setelah beliau meminta ampun pada Allah dan meminta maaf pada guru beliau.

Salah satu keindahan ajaran agama Islam adalah agama Islam ini mendorong dan mengajarkan umatnya memiliki akhlak yang mulia. Selain itu, agama Islam juga melarang umatnya berakhlak dengan akhlak yang buruk. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad no. 8952 dan Al-Bukhari dalam Adaabul Mufrad no. 273. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Adaabul Mufrad.)

Dan dari sabda beliau,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2201.)

—————————

Bahkan dengan akhlak muliaseseorang bisa menyamai kedudukan (derajat) orang yang rajin berpuasa dan rajin shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

“Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” (HR. Ahmad no. 25013 dan Abu Dawud no. 4165. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib no. 2643.)

—————————

Dengan semakin kokoh ‘aqidah dan keimanan seseorang, seharusnya semakin baik pula akhlaknya. Dengan bertambahnya ilmu ‘aqidah dan imannya, bertambah luhur pula akhlaknya. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi no. 1162. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 284.)

—————————

Adapun salah satu cara menjaga adab (akhlak) dalam kitab Nashaihul Ibad karya ulama Indonesia yang menjadi imam Masjidil Haram, Imam Nawawi Ibnu Umar Al–Jawy atau Imam Nawawi Al–Bantany (beliau memiliki gelar Al–Bantany karena beliau berasal dari Banten), dalam Bab 4 maqolah ke – 17, dijelaskan bahwa pangkal adab adalah sedikit bicara. Sedikit bicara yang dimaksud disini adalah berbicara seperlunya dan hanya berbica hal – hal yang penting dan manfaat saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

—————————————

الامهات اربع ام الادوية وام الاداب وام العبادات وام الاماني فام الادوية قلة الاكل وام الاداب قلة الكلام وام العبادات قلة الذنوب وام الاماني الصبر

“Pangkal segala sesuatu ada empat : pangkal obat, pangkal adab (akhlak), pangkal pengabdian (ibadah) dan pangkal cita-cita. Adapun pangkal obat adalah mengurangi makan. Pangkal adab adalah sedikit berbicara. Pangkal ibadah adalah sedikit berbuat dosa. Dan pangkal cita-cita adalah bersabar.”

—————————

Oleh karena itu, jika ada di antara kita yang semakin bertambah ilmu agama dan imannya, namun akhlaknya tidak semakin baik, maka waspadalah, mungkin ada yang salah dalam diri kita dalam belajar agama dan mengamalkannya.

Hiasilah dirimu dengan adab dan akhlak mulia. Namun, janganlah kita berhias dengan akhlak yang mulia dengan selalu mengharapkan mendapatkan perlakuan yang semisal dan sebanding dari orang lain. Sedikitklah dalam berbicara, karena sedikit bicara adalah pangkal adab.